Buka Talkshow ‘Kaya Lahan Miskin Peternak’, Bupati Kutim: Jangan Banyak Wacana, Langsung Action!

Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman membuka secara resmi talkshow peternakan yang digagas oleh Jurusan Peternakan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutim. Acara yang digelar di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim ini mengangkat tema yang cukup menggelitik: “Kutai Timur: Kaya Lahan, Miskin Peternak”.

Dalam sambutannya, Ardiansyah mengapresiasi keberanian mahasiswa dalam mengangkat tema tersebut. Menurutnya, judul diskusi ini merupakan sebuah otokritik sekaligus tantangan nyata yang harus segera dijawab oleh seluruh pihak di Kutai Timur.

“Kutai Timur ini luas lahannya tidak bisa kita hitung yang tersedia. Hanya persoalannya, mana pelakunya? Jadi kalau ditanya kenapa ‘miskin peternak’, saya kira jawabannya jangan banyak wacana, tapi langsung praktik action,” tegas Ardiansyah.

Untuk membakar semangat para mahasiswa dan peserta yang hadir, Ardiansyah membagikan pengalamannya saat mulai memasuki masa pensiun pada kisaran tahun 2016-2017 lalu. Kala itu, ia memanfaatkan lahan terbatas untuk membuat kolam terpal dan diisi 4.000 bibit ikan lele, lengkap dengan tanaman cabai, jeruk nipis, dan mangga di media polybag.

Langkah serupa juga diikuti oleh Wakil Bupati Kutim yang membangun peternakan ayam selepas pensiun, hingga kini sukses menguasai pasar daging ayam lokal. Konsep produktif ini bahkan terus dilanjutkan Ardiansyah di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati saat ini dengan memelihara angsa, ayam kampung, mentok, hingga ayam petelur.

“Jawaban mereka (masyarakat) biasanya, ‘Ya kan rumah bupati luas’. Saya tidak mau memperpanjang. Ini bukan masalah luas atau tidaknya lahan, tapi bagaimana kita merespons peluang yang ada,” imbuhnya.

Ia pun mengingatkan jajaran Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim agar bekerja ekstra cepat demi mengejar target kedaulatan pangan regional melalui 50 program unggulan daerah.

“Makanya mohon maaf Kadis Pertanian, jangan tersinggung, jangan merasa malu kalau sering dimarahi bupati. Karena saya ingin cepat itu muncul, agar Kutai Timur siap berdaulat di bidang pangan,” kelakar Ardiansyah yang disambut tawa hadirin.

Secara khusus, Ardiansyah meminta instansi terkait untuk proaktif mendatangi dan mengawal para pelaku usaha pertanian dan peternakan lokal yang mulai menggeliat dari skala rumahan. Salah satunya seperti Five Farm milik Ikhvani Wulandari, seorang mahasiswi yang di sela kesibukan akademiknya sudah mampu memproduksi DOC (bibit ayam) dan budidaya maggot mandiri.

“Saya kaget waktu diundang ke Five Farm. Di rumahnya yang kecil, lingkungan kecil, bisa menghasilkan DOC dengan mesin penetas sendiri dan bikin maggot. Nah, saya berharap muncul ‘Wulandari-Wulandari’ yang lain,” harapnya.

Selain mendorong sektor peternakan rakyat yang mencatat kontribusi hingga 15.000 ekor sapi per tahun, Bupati juga menyoroti komitmen fasilitas hilirisasi yang belum tuntas, seperti bantuan mesin pengolah kopi mangrove untuk kelompok usaha lokal di lapangan. Ia meminta dinas terkait segera merealisasikan janji tersebut agar pemerintah tidak dicap pemberi harapan palsu.

Di akhir sambutan, Ardiansyah berharap STIPER Kutim dapat memosisikan diri sebagai motor penggerak ketahanan pangan daerah dengan aktif mendampingi kelompok PKK dan Dasawisma di desa-desa.

Sebagai informasi, talkshow ini juga menghadirkan sejumlah panelis kompeten, antara lain Kepala DTPHP Kutim Dyah Ratnaningrum, Pengelola Yakin Bisa Farm Dr. CHK Karyadinata, Pemilik Vay Farm Ikhvani Wulandari, serta Wakil Ketua II STIPER Kutim Imam Sanusi. (Caya/*)