Proyek BEC Coal to Methanol di Bengalon Resmi Masuk Tahap Pembangunan

Jalannya Groundbreaking BEC di Kecamatan Bengalon dihadiri Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

BENGALON – Proyek Strategis Nasional (PSN) PT Bumi Etam Chemical (BEC) Coal to Methanol Project resmi memasuki tahap pembangunan setelah groundbreaking digelar di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, Senin (31/8/2026).

Proyek dengan nilai investasi mencapai Rp41,52 triliun tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi batubara sekaligus diharapkan memperkuat ketahanan energi dan industri nasional.

Groundbreaking dihadiri Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, perwakilan Gubernur Kalimantan Timur, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, unsur Forkopimda, jajaran Pemerintah Kecamatan Bengalon, serta pimpinan PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), dan PT Bumi Etam Chemical.

Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical Rio Supin mengatakan, groundbreaking tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang telah ditempuh selama kurang lebih 15 tahun.

“BEC dibentuk sebagai pelaksana mandat hilirisasi yang diemban PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia,” jelasnya.

Ia berharap pembangunan proyek dapat berjalan sesuai target dan memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional.

“Jangan hanya membangun pabriknya, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, Kalimantan Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung energi nasional. Menurutnya, proyek BEC diharapkan dapat menjadi contoh keberhasilan hilirisasi batubara yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

“Proyek BEC diharapkan menjadi contoh keberhasilan hilirisasi batubara yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri,” ujarnya.

Ia menilai industri methanol dapat memperkuat rantai pasok industri nasional, meningkatkan daya saing Indonesia, sekaligus memberikan dampak ekonomi mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

“Kita ingin investasi ini memberikan efek berganda yang besar. Jika terus dikembangkan dengan baik, maka akan berkontribusi terhadap terwujudnya visi Indonesia Maju 2045,” ujarnya.

Sementara itu, mewakili Gubernur Kalimantan Timur, Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto menegaskan proyek BEC merupakan bentuk nyata implementasi hilirisasi sumber daya alam.

Menurutnya, investasi Rp41,52 triliun tidak hanya berdampak terhadap pembangunan industri, tetapi juga berpotensi memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah.

Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal perlu menjadi perhatian agar masyarakat Kutai Timur dapat terlibat dan memperoleh manfaat langsung dari keberadaan proyek tersebut.

Di tempat yang sama, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan apresiasi atas terealisasinya pembangunan proyek yang telah direncanakan sejak lebih dari satu dekade lalu.

Menurut Ardiansyah, kehadiran BEC menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan industri di Kutai Timur, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) dan Kawasan Ekonomi Khusus Batuta Chemical Industrial Park (BCIP).

“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kutai Timur, kita menyampaikan apresiasi dan terima kasih terhadap Pak Wamen Yuliot Tanjung yang hari ini datang untuk groundbreaking BEC ini,” ujarnya usai kegiatan groundbreaking, Senin (31/8/2026).

Dengan dimulainya pembangunan BEC, Ardiansyah menyebut Kutai Timur kini memiliki dua kawasan ekonomi yang diharapkan dapat menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, ia menegaskan manfaat investasi tersebut tidak cukup hanya dilihat dari nilai proyek maupun pembangunan kawasan industri. Pemerintah daerah berharap kehadiran BEC dapat memberikan dampak berantai atau multiplier effect bagi masyarakat.

Dampak tersebut diharapkan terlihat melalui terbukanya lapangan pekerjaan, meningkatnya aktivitas usaha masyarakat, tumbuhnya pelaku usaha lokal, hingga berkembangnya sektor-sektor ekonomi pendukung di sekitar kawasan industri.

“Kita harapkan ini nantinya akan mendongkrak lebih besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Jadi multiplier effect-nya ini yang kita tunggu,” katanya.

Bupati juga mengingatkan agar groundbreaking tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi segera dilanjutkan dengan tahapan pembangunan hingga proyek dapat beroperasi sesuai rencana.

Ia berharap proses pembangunan BEC berjalan konsisten dan memberikan kepastian bagi pemerintah daerah maupun masyarakat terkait realisasi investasi tersebut.

“Mudah-mudahan. Tadi saya mengamati sambutan Gubernur, jangan sampai yang dipancang hari ini berikutnya akan menjadi tiang terus sampai selamanya. Ini semoga tidak terjadi di BEC ini,” tegasnya. (*)