
STIPER Kutim Bedah Potensi Peternakan: Lahan Melimpah, Miskin Peternaknya?
SANGATTA — Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER Kutim) melalui Jurusan Peternakan menggelar talkshow strategis bertajuk “Kutai Timur: Kaya Lahan, Miskin Peternak” di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur pada Selasa (2/6/2026). Talkshow ini diinisiasi sebagai wadah untuk memunculkan ide-ide kreatif sekaligus membangkitkan kembali peran STIPER Kutim sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung bagi daerah.
Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, serta menghadirkan sejumlah panelis kompeten. Di antaranya Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kutim Dyah Ratnaningrum, Pengelola Yakin Bisa Farm Dr. CHK Karyadinata, Pemilik Vay Farm Ikhvani Wulandari, dan Wakil Ketua II STIPER Kutim Imam Sanusi.
Dalam sambutannya, Ketua STIPER Kutim, Dr. Ismail Fahmi Almadi, meluruskan arti di balik tema yang diusung. Menurutnya, Kutai Timur sama sekali tidak miskin dalam hal produksi peternakan, melainkan jumlah peternaknya yang masih relatif sedikit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kutai Timur justru mengukir prestasi luar biasa dalam mendukung kemandirian pangan di Kalimantan Timur. Pasalnya Kutim salah satu daerah penyumbang 15.000 Ekor Sapi dan menduduki peringkat ketiga se-Kaltim untuk swasembada daging sapi.
“Data BPS memberikan gambaran jelas bahwa Kutai Timur mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peternakan. Dalam kemandirian pangan, kita butuh tiga hal: ketersediaan, keterjangkauan, dan kebermanfaatan pangan. Pak Bupati melalui 50 program unggulannya terus mendorong hal ini agar swasembada tetap terjaga,” ujar Ismail.
Ismail juga memaparkan fenomena menarik terkait ketenagakerjaan di Kutim. Data BPS mencatat ada sekitar 40.000 pekerja tambang yang terkena PHK dalam setahun terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, sektor pertanian secara umum justru menunjukkan tren positif dengan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 13%. Meskipun sebagian besar korban PHK saat ini beralih ke sektor penyedia jasa seperti ojek online, sektor pertanian dan peternakan dinilai menjadi momentum baru yang sangat potensial untuk dikembangkan.
“Ini adalah momentum yang pas untuk kita berkolaborasi mendapatkan Kutai Timur yang hebat,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif STIPER Kutim. Ia berharap STIPER dapat menjadi motor penggerak utama dalam menjaga ketahanan pangan daerah melalui pendampingan langsung ke masyarakat.
Ardiansyah juga meminta masyarakat, kelompok PKK, maupun pelaku usaha yang ingin belajar peternakan tidak perlu jauh-jauh melakukan studi banding ke luar daerah. Kutai Timur sudah memiliki contoh sukses di lapangan.
“Tidak usah jauh-jauh studi bandingnya. Nanti bisa ke Vay Farm atau ke pengelola Yakin Bisa Farm. Mereka sudah siap di lapangan untuk membagikan ilmunya. Saya yakin akan muncul petani dan peternak baru di lapangan yang berkontribusi bagi ketahanan pangan Kutai Timur,” pungkas Ardiansyah sembari membuka acara secara resmi. (Caya/*)






