Perkuat Layanan Jantung, 12 RSUD di Kaltim Resmi Gandeng RS Harapan Kita

Sangatta – Upaya menekan angka kematian akibat penyakit jantung di Kalimantan Timur (Kaltim) makin diseriusi. Sebanyak 12 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) se-Kaltim termasuk RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda resmi menandatangani MoU Jejaring Pengampuan Kardiovaskular dengan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta.

​Penandatanganan kerja sama ini digelar di Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim), Sangatta, pada Jumat (19/6/2026). Momen ini sekaligus menandai peluncuran layanan intervensi non-bedah kardiovaskular perdana di RSUD Kudungga, Kutim.

​Direktur RSUD Kudungga, dr Muhammad Yusuf, menyebut langkah ini sebagai momentum vital untuk memperkuat sistem rujukan. Terlebih, penyakit jantung masih mendominasi penyebab kematian tertinggi di Tanah Air.

​”Kerja sama ini bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi komitmen bersama yang diwujudkan melalui pendampingan berkelanjutan dan peningkatan mutu pelayanan,” ujar dr Yusuf.

​Ia menjelaskan, layanan intervensi non-bedah perdana di RSUD Kudungga langsung didampingi oleh tim dari RS Harapan Kita. Hal ini ditujukan untuk mempercepat transfer ilmu kepada tenaga kesehatan lokal.

​Plt Direktur RSUD AWS Samarinda, dr Masniati, yang ditunjuk sebagai rumah sakit pengampu regional, membeberkan tingginya urgensi penanganan jantung di wilayah Kaltim.

​”Pelayanan PCI (pemasangan ring jantung) di rumah sakit kami mencapai 8 sampai 12 tindakan per hari, di luar kasus emergency. Melalui jejaring ini, pemerataan layanan bisa terwujud sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar daerah,” jelas dr Masniati.

​Sementara itu, Direktur Utama RS Harapan Kita, dr Erwin, menegaskan komitmennya sebagai koordinator nasional. Pihaknya berjanji akan terus mendampingi rumah sakit di daerah agar memiliki standar pelayanan yang setara.

​Tingginya kebutuhan fasilitas ini juga diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin. Menurutnya, Kaltim punya tantangan besar karena tingginya kasus hipertensi dan diabetes melitus yang memicu penyakit kardiovaskular.

​”Pencegahan memang harus terus diperkuat. Namun ketika masyarakat membutuhkan layanan, fasilitas kesehatan juga harus sudah siap, cepat, dan berkualitas,” tegas dr Jaya.

​Menutup acara tersebut, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi lintas instansi ini. Ia berharap hambatan birokrasi dalam proses rujukan pasien dapat segera dipangkas.

​”Kita ingin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik tanpa harus pergi ke luar daerah maupun luar negeri. Kolaborasi yang kuat akan menghasilkan pelayanan bermutu, sehingga masyarakat sehat dan daerah makin maju,” pungkas Ardiansyah. (*)