
Soroti Maraknya Titik Api Saat Kemarau Panjang, Bupati Kutim Instruksikan Perusahaan Langsung Turun Padamkan Karhutla
Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh jajaran perusahaan pertambangan maupun perkebunan untuk bergerak cepat menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia meminta pihak perusahaan, mulai dari tingkat direktur hingga general manager (GM), segera melakukan pemadaman tanpa menunggu pihak lain apabila menemukan titik api di lapangan.
Instruksi tersebut disampaikan Ardiansyah menyusul kondisi kemarau panjang yang melanda Kutim saat ini, yang dinilainya berlangsung lebih lama dan berdampak lebih berat dibandingkan fenomena El Nino beberapa tahun silam saat memberikan sambutan dalam acara peresmian underpass STA 34+700 di Desa Pulung Sari, Kecamatan Rantau Pulung, Kamis (5/11/2026)
Ardiansyah meyakini bersama jajaran Kodim dan Polres bahwa munculnya banyak titik api di berbagai lokasi bukan semata-mata faktor alam, melainkan akibat kelalaian dan ulah tangan manusia. Pemicunya mulai dari kebiasaan membakar sampah yang ditinggal, membuang sisa bara api sembarangan, hingga membuka lahan dengan cara dibakar.
“Khusus di dunia usaha, baik perusahaan pertambangan maupun perkebunan, jangan sampai ada yang melakukan pembakaran. Kedua, kalau melihat api, segera lakukan pemadaman dan jangan menunggu orang lain, termasuk direktur atau GM-nya. Kalau melihat kejadian, segera berhenti dan perintahkan jajaran di bawah untuk memadamkan,” tegas Ardiansyah.
Dalam kesempatan itu, Ardiansyah membagikan pengalamannya saat melintas di Kilometer 26 jalur Sangatta–Bontang sepulang dari Samarinda pada hari Selasa. Ia mendapati kebakaran lahan karet di pinggir jalan yang apinya tak kunjung padam dari malam hingga sore hari akibat ditinggal pemilik lahan pulang ke Samarinda usai membakar tumpukan kayu pembersihan kebun.
Akibat tindakan warga yang hanya membuka ladang kecil tersebut, api meluas hingga menghanguskan hampir 30 hektare lahan di sekitarnya. Melihat dua mobil pemadam di lokasi kehabisan pasokan air, Ardiansyah langsung berhenti di lokasi dan meminta bantuan suplai mobil tangki air (water tank) dari Pertamina serta perusahaan terdekat bersama aparat Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Karena itu, Ardiansyah mengingatkan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan modal investasi jangka panjang. Meski dikenal sebagai daerah tambang, Kutim saat ini masih memiliki tutupan hutan sekitar 60 persen dari total luas wilayahnya yang berfungsi menyumbang oksigen sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
“Satu sisi kita membangun infrastruktur yang memudahkan pekerjaan, tetapi di sisi lain jangan sampai pembangunan itu mengganggu lingkungan yang ada. Keseimbangan lingkungan di Kutai Timur harus tetap kita jaga bersama,” tutupnya. (Caya/ADV/*)





