Anggaran Disdikbud Kutim Turun, Mulyono Pastikan Program Utama Tetap Berjalan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono

Sangatta –Anggaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada tahun 2026 ini dipastikan kembali mengalami penurunan akibat adanya pergeseran anggaran yang dilakukan pemerintah. Namun meski begitu, sejumlah program di dinas pendidikan dipastikan tetap berjalan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono kepada sejumlah awak media usai membuka kegiatan Pengenalan Ibadah Haji di halaman Masjid Agung Al-Faruq, Kompleks Islamic Center, Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (16/9/2026).

Kepala Disdikbud Kutim Mulyono mengatakan, anggaran yang dikelola dinasnya pada 2024 mencapai Rp3,2 triliun. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi Rp2,07 triliun pada 2025, dan kembali mengalami penurunan pada 2026 menjadi sekitar Rp1,1 triliun sekian.

Menurut Mulyono, penurunan anggaran tersebut merupakan bagian dari efisiensi. Namun, kondisi itu tidak membuat seluruh program pendidikan dihentikan.

“Insyaallah semua jalan. Tetap jalan tetapi ada beberapa yang kita kurangi saja,” kata Mulyono.

Ia mencontohkan pengurangan anggaran pada pengadaan seragam. Meski mengalami pengurangan, program tersebut tetap dijalankan.

Mulyono menegaskan, Disdikbud tetap berfokus pada empat alat ukur kinerja pendidikan yang menjadi acuan dalam pelaksanaan program.

Pertama, pemenuhan 15 Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan yang menjadi standar dan target dari pemerintah pusat. Kedua, rapor pendidikan. Ketiga, akreditasi. Keempat, 50 program unggulan bupati, yang di dalamnya terdapat 10 program terkait dinas pendidikan.

“Jadi, kita itu semua yang kita dorong. Nah, insyaallah semuanya berjalan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mulyono menambahkan, meskipun terdapat sejumlah pos anggaran yang mengalami pengurangan, kebijakan tersebut bukan berarti menghilangkan program.

“Walaupun memang ada beberapa pos yang mengalami pengurangan. Bukan menghilang, tapi ya dikurangi,” pungkasnya. (Butsainah/ADV/*)