
Kualitas Udara Sangatta Memburuk, Dinkes Kutim Imbau Warga Kurangi Aktivitas Luar Rumah
SANGATTA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan menyusul memburuknya kualitas udara di Sangatta yang mencapai kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat pada Kamis (17/9/2026).
Data pemantauan Dinkes Kutim mencatat Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) berada di angka 165 pada Rabu (16/9/2026) pukul 19.05 WITA. Kualitas udara semakin memburuk berdasarkan pantauan The Weather Channel pada Kamis (17/9/2026) yang mencatat angka AQI Sangatta menembus 209 atau masuk kategori Very Unhealthy (sangat tidak sehat).
Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa pencemaran udara ini berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan indeks kualitas udara kita berada di angka 165 atau kategori tidak sehat. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, khususnya kelompok sensitif,” kata dr. Yuwana, Kamis (17/9/2026).

Kelompok rentan tersebut mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kardiovaskular dan gangguan saluran pernapasan. Untuk meminimalkan risiko, Dinkes Kutim menyampaikan beberapa poin imbauan medis:
- Penggunaan Masker: Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah dianjurkan memakai masker pelindung partikulat seperti N95 atau masker bedah.
- Pembatasan Aktivitas: Menunda kegiatan luar ruangan yang tidak mendesak dan mengalihkan aktivitas ke dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang baik.
- Menjaga Daya Tahan Tubuh: Memperbanyak konsumsi air putih serta makanan bergizi seimbang.
- Pemeriksaan Kesehatan: Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala batuk, sesak napas, iritasi mata, atau nyeri dada.
Sebagai bentuk penanganan cepat, Dinkes Kutim mulai mendistribusikan persediaan masker secara bertahap kepada masyarakat. Namun, keterbatasan stok lokal membuat pihak dinas berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk penyaluran skala besar.
“Kami sedang membagikan stok masker yang ada karena jumlahnya terbatas, sambil menunggu kiriman bantuan dari Kementerian Kesehatan,” ujar dr. Yuwana. (*)





