Disdikbud Kutim Dorong Penguatan Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional

Foto : Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham saat memberikan sambutan pada pembukaan Bimbingan Teknis Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional di Meeting Room Zenova Royale Hotel, Kamis (10/9/2026).

SangattaDinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong penguatan tata kelola lembaga kesenian tradisional agar lebih siap mengakses dukungan pendanaan, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Hal tersebut disampaikan Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham s4at memberikan sambutan pada pembukaan Bimbingan Teknis Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional di Meeting Room Zenova Royale Hotel, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung 10-12 September 2026 tersebut dirangkai dengan Bimtek Pelatih Seni Tarsul dan Pelatih Seni Teater. Peserta berasal dari jenjang SD, SMP, SMA dan SMK.

Ilham mengatakan, penguatan tata kelola menjadi perhatian penting karena masih terdapat kendala administrasi pada sejumlah lembaga kesenian. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan ketika lembaga mengajukan proposal bantuan.

“Mulai dari AD ART-nya, mulai dari badan hukumnya, NPWP-nya, bagaimana membuat RAB-nya ketika melakukan sebuah usulan proposal untuk bantuan,” kata Ilham saat memberikan sambutan

Menurutnya, dukungan pendanaan untuk lembaga kebudayaan tidak hanya tersedia melalui APBD, tetapi juga dapat berasal dari pemerintah provinsi maupun APBN. Karena itu, kemampuan lembaga dalam memenuhi persyaratan administrasi perlu diperkuat.

Ilham mengungkapkan, pihaknya telah menindaklanjuti arahan Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terkait peluang bantuan APBN. Bahkan, sebanyak 17 proposal yang telah diverifikasi Disdikbud Kutim sudah dibawa ke Jakarta untuk ditindaklanjuti.

“Alhamdulillah kemarin sudah kita antar ke J4karta 17 proposal yang sudah kami verifikasi. Mudah-mudahan ini bisa mendapat respon dari Kementerian Kebudayaan,” ujarnya.

Selain tata kelola kelembagaan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang seni Tarsul dan teater.

Ilham menjelaskan, pengembangan kedua bidang seni tersebut berkaitan dengan upaya Disdikbud Kutim mengembangkan kurikulum muatan lokal. Disdikbud Kutim telah menerbitkan dan mendistribusikan buku muatan lokal ke sekolah-sekolah di Kabupaten Kutim.

“Harapan kita dari muatan lokal, kurikulum muatan lokal yang kita sudah berikan itu tersambung dengan kapasitas SDM, sumber daya manusia, guru-guru yang bisa mengimplementasikan kurikulum muatan lokal ini lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Kutim Mahyunadi meminta lembaga kesenian tradisional mengambil peran lebih besar dalam menjaga dan mengembangkan budaya daerah agar tetap hidup serta dikenal masyarakat luas.

Menurut Mahyunadi, bangsa yang besar merupakan bangsa yang mampu menghargai dan melestarikan budayanya. Budaya, kata dia, bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi ketika dikembangkan secara serius.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai, melestarikan budayanya. Dengan budaya kita dikenal. Dengan budaya kita bisa bangga. Dengan budaya yang lestari, kita bisa mendapatkan income bagi negara,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai tata kelola lembaga kesenian tradisional memiliki posisi penting dalam pembangunan budaya daerah.

Mahyunadi mendorong kesenian Dayak dan budaya lokal lainnya tetap mempertahankan kearifan lokal, namun dapat dikembangkan melalui kreativitas baru sehingga lebih menarik ketika ditampilkan di luar daerah maupun di hadapan wisatawan.

Ia menilai perpaduan antara tradisi dan inovasi dibutuhkan agar kesenian lokal tidak monoton serta mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Untuk bisa kita ekspos keluar, kita juga harus bisa mengkolaborasikan atau mengkombinasikan tarian-tarian lokal kita, budaya lokal kita kepada keadaan kebutuhan pasar saat ini,” Pungkasnya (Butsainah/ADV/*)