
Bupati Kutim Ragukan Data Angka Putus Sekolah Pusdatin
Sangatta,– Bupati Kutai Timur (Kutim), H. Ardiansyah Sulaiman, menyatakan keraguannya terhadap tingginya data anak tidak bersekolah, yang dirilis oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurutnya, angka yang ditunjukkan oleh Pusdatin tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan dan cenderung tidak logis.
“Ini agak lucu ya, saya tidak berani komentar lebih jauh. Sejak tahun 2005, pendidikan di Kutai Timur itu sudah diberlakukan gratis, bahkan sampai perguruan tinggi juga diberi kemudahan biaya. Makanya, logika data yang diberikan Pusdatin itu tidak sesuai kenyataan yang ada di lapangan,” ujar Ardiansyah, kepada sejumlah awak media belum lama ini.
Ardiansyah juga menambahkan bahwa pemerintah daerah sedang gencar melaksanakan program wajib belajar 12 tahun, di mana siswa diberi kemudahan melanjutkan sekolah tanpa dibebani biaya.
“Masyarakat harus paham, apabila memang terjadi putus sekolah, itu bukan berarti pemerintah tak menyediakan dukungan. Makanya logika data tersebut tampak tak sesuai,” tegasnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Angka mengejutkan muncul dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), yang menempati posisi teratas sebagai daerah dengan jumlah anak tidak bersekolah terbanyak di provinsi ini.
Dari Data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, https://pd.data.kemdikbud.go.id/ATS/index.php/rangkuman/hasil-verifikasi/160000?tabulasi=wilayah#spdo, mencatat, setidaknya ada 12.802 anak di Kutim diduga belum menuntaskan bangku pendidikan formal.
Dari data Pusdatin merincikan bahwa anak belum pernah bersekolah ada sebanyak 9.463, anak, telah lulus namun tidak melanjutkan pendidikan sebanyak 1.451 anak, dan mengalami putus sekolah sebanyak (drop out) 1888 anak. (Caya/*)





