Kutim, Satu-satunya Daerah yang Angkat Seluruh Tenaga Honorer-nya Jadi PPPK

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam pengarahan pembukaan seleksi PPPK. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA –  Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menorehkan prestasi  membanggakan  dalam hal  penanganan tenaga honorer.  Berbeda dengan daerah lain yang  masih  dipusingkan  dengan  nasib  ribuan tenaga honorer, Kutim justru  berhasil  mengangkat seluruh tenaga honorernya  menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Kebijakan  ini  ditegaskan  oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat membuka seleksi  PPPK gelombang keempat  di  Ruang CAT BKPSDM Kutim, Selasa (3/12/2024) lalu.  Seleksi  ini merupakan  tahap  final  dari  komitmen  Pemkab Kutim  untuk  mengakhiri  era  tenaga honorer  di  lingkungan pemerintahannya.

“Alhamdulillah,  Kutim menjadi  satu-satunya daerah  di Indonesia yang  memberikan  kesempatan  kepada seluruh tenaga kontrak  untuk  diangkat  menjadi PPPK,” ujar Ardiansyah.

Ia  menyebutkan  bahwa  banyak  daerah  lain  yang  masih  kesulitan  dalam  menangani  tenaga  honorer.  Keterbatasan  anggaran  dan  formasi  PPPK  menjadi  kendala  utama.  Namun,  Kutim  berhasil  mengatasi  hal  tersebut  dengan  perencanaan  yang  matang  dan  komitmen  yang  kuat.

“Kami  sudah  menyiapkan  anggaran  melalui  APBD  untuk  menanggung  gaji  PPPK.  Ini  merupakan  bentuk  tanggung  jawab  pemerintah  dalam  meningkatkan  kesejahteraan  para  tenaga  honorer  yang  telah  lama  mengabdi,”  jelas Ardiansyah.

Kebijakan  progresif  ini  mendapat  apresiasi  dari  berbagai  pihak.  Kutim  diharapkan  menjadi  contoh  bagi  daerah  lain  dalam  menangani  tenaga  honorer.  Dengan  diangkatnya  seluruh  tenaga  honorer  menjadi  PPPK,  diharapkan  kualitas  pelayanan  publik  di  Kutim  semakin  meningkat.

Seleksi  PPPK  gelombang  keempat  ini  mencakup  lebih  dari  4.300  TK2D  yang  akan  mengikuti  tes  secara  bertahap  hingga  16  Desember  2024.  Proses  seleksi  dilakukan  dengan  ketat  dan  transparan  untuk  menjaring  calon  PPPK  yang  berkompeten.

Kepala  BKPSDM  Kutim,  Misliansyah,  menjelaskan  bahwa  seleksi  dilakukan  secara  bertahap  karena  keterbatasan  kapasitas.  “Setiap  sesi  hanya  dapat  menampung  100  peserta.  Namun,  kami  upayakan  agar  proses  seleksi  berjalan  lancar  dan  efisien,”  ujarnya. (*)