Audensi Dengan GBN-MI, Mahyunadi Dorong Penguatan Persatuan dan Kesatuan

Foto Mahyunadi saat menerima audiensi Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN-MI) DPP Kaltim dan DPK Kutim di Ruang Arau, Kantor Bupati Kutim, Senin (21/9/2026).

SangattaWakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menilai persatuan dan kesatuan menjadi salah satu modal penting yang harus terus dipupuk jika Indonesia ingin berkembang menjadi negara maju.

Hal itu disampaikan Mahyunadi saat menerima jajaran pengurus Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN-MI) yang dipimpin Ketua GBN-MI Rustam Amd di Ruang Arau, Kantor Sekretariat Kabupaten Kutim, Senin (21/9/2026).

Mahyunadi menyatakan mendukung upaya GBN-MI dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bela negara melalui kegiatan sosialisasi dan pendidikan.

“Saya sepakat dengan GBN-MI untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bela negara. Kita harus perkuat persatuan dan kesatuan melakukan bela negara. Sebab hanya dengan cara ini, negara makin kuat dan bisa berkembang jadi negara maju,” kata Mahyunadi.

Menurutnya, Indonesia saat ini telah masuk dalam kategori negara berkembang dengan tingkat pendapatan menengah. Namun, salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah mengubah pola ekonomi yang cenderung konsumtif menjadi lebih kreatif dan produktif.

“Jika negara ini sudah produktif, maka negara ini bisa melampaui negara maju saat ini. Sebab negara ini punya kekuatan sumber daya alam yang besar, beda dengan negara maju seperti Singapura, hanya bermodalkan kreativitas, tapi tidak memiliki SDA,” ujarnya.

Mahyunadi mengatakan negara maju pada umumnya memiliki tingkat produktivitas dan kreativitas yang tinggi. Karena itu, Indonesia dinilai perlu meningkatkan kemampuan dalam mengolah sumber daya alam menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Menurut dia, upaya tersebut dapat dilakukan melalui hilirisasi, seperti pengolahan nikel dan bauksit. Begitu pula dengan komoditas kelapa sawit. Produk crude palm oil (CPO), kata dia, tidak semestinya hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu terus dikembangkan menjadi berbagai produk turunannya.

“Kalau perlu CPO jangan lagi dijual dalam bentuk CPO, tapi produk turunan. Sebab sebagian saat ini sudah diolah jadi bahan bakar,” katanya.

Meski demikian, Mahyunadi mengakui proses hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan kepentingan pelaku usaha yang selama ini memperoleh keuntungan dari perdagangan komoditas dalam bentuk bahan mentah.

“Hilirisasi banyak tantangan. Sebab banyak eksportir yang selama ini sudah menikmati kekayaan besar dari ekspor bahan mentah akan kehilangan pendapatan kalau diolah jadi barang jadi. Termasuk importir juga akan kehilangan produk impor yang sudah bisa dihasilkan dari hilirisasi dalam negeri,” pungkasnya.