
Data Anak Tidak Sekolah di Kutim Terus Menurun, Operator Desa Aktif Verifikasi
Sangatta – Penanganan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan perkembangan setelah operator desa dan kelurahan turun melakukan verifikasi serta validasi data di lapangan. Data ATS yang sebelumnya mencapai sekitar 9.961 anak kini berada di angka 9.488.
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Heri Purwanto, saat ditemui di Hotel Royal Victoria belum lama ini.
Heri Purwanto mengatakan, Disdikbud Kutim sebelumnya telah melaksanakan bimbingan teknis kepada operator yang ditunjuk dan telah mendapatkan surat keputusan (SK) dari desa untuk menangani ATS.
“Kita sud4h melakukan bimbingan teknis kepada operator untuk penanganan ATS yang telah ditunjuk dan di-SK-kan oleh desa,” kata Heri kepada media ini
Menurutnya, kegiatan tersebut telah dilakukan sebanyak dua kali dan diikuti 139 desa serta dua kelurahan. Setelah pelatihan, para operator mulai bekerja di lapangan untuk melakukan verifikasi data.
Ia menyebutkan, bahwa perkembangan penanganan ATS terlihat dari penurunan jumlah data yang tercatat. Sekitar dua hari sebelumnya jumlah ATS masih berada di kisaran 9.500 lebih, sedangkan data terbaru yang dibuka Heri menunjukkan angka 9.488.
“Artinya turun, merek4 bekerja di lapangan dan itu membantu kita. Itu satu. Dan kalau pun ada angka ATS itu yang kurang berarti ada ATS itu yang kembali ke sekolah,” ujarnya.
Selain jumlah ATS, progres juga terlihat dari hasil verifikasi. Heri menyebut data yang telah diverifikasi sebelumnya masih berada di kisaran 4.000, sedangkan saat ini sudah mencapai 3.000 lebih dalam proses yang terus berjalan.
“Verifikasi tersebut dilakukan melalui sistem yang dapat diakses secara umum. Untuk masuk ke wilayah desa dan melakukan verifikasi, operator harus menggunakan akun yang telah disiapkan Disdikbud Kutim,”ucapnya
Selain itu, dalam prosesnya, operator memeriksa identitas, alamat, hingga status pendidikan anaak. Data tersebut mencakup anak yang belum pernah bersekolah, putus sekolah (dropout), serta lulus tetapi tidak melanjutkan.
Lebih lanjut, Heri menambahkan, operator desa memverifikasi data anak yang belum pernah bersekolah, sedangkan data dropout dan lulus tidak melanjutkan diverifikasi oleh operator sekolah masing-masing.
“Para operator desa hingga kini bekerja secara sukarela tanpa honor dari Disdikbud. Pemerintah berharap dukungan dana desa dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan ATS,” imbuhnya
Dari proses verifikasi di lapangan, Heri mengatakan juga ditemukan sejumlah data yang tidak sesuai. “Banyak ditemukan data-data yang tidak sesuai. Artinya data itu tidak ada setelah diverifikasi di lapangan. Artinya anak tidak ditemukan.”Pungkasnya





