
Percepat Standarisasi SPRA, Pemkab Kutim Gelar Pelatihan Fasda Angkatan II
Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memacu percepatan standarisasi Satuan Pendidikan Ramah Anak (SPRA) di seluruh jenjang sekolah guna memastikan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan dan perundungan. Langkah strategis ini ditempuh lewat penguatan kapasitas tenaga pendamping di lapangan agar penanganan hak anak dapat berjalan efektif dan merata.
Sebanyak 20 kepala sekolah dari jnjang PAUD hingga SMA dibekali keterampilan fasilitasi khusus. Pelatihan Fasilitator Daerah (Fasda) SPRA Angkatan Kedua ini diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) di Kantor Diskominfo Kutim, pada Kamis, (10/9/2026).
Ketua Panitia Pelaksana yang juga Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim , Rita Winarni, mengatakan bahwa kehadiran para fasilitator daerah ini dinilai menjadi kunci utama untuk memastikan setiap sekolah benar-benar menerapkan prinsip perlindungan anak secara nyata, bukan sekadar imbauan di atas kertas. Ia menilai keterlibatan aktif para kepala sekolah sangat krusial dalam mempercepat transformasi iklim belajar yang aman dan inklusif di daerah.
”Kegiatan hari inimerupakan salah satu, kegiatan penunjang untuk percep4tan standarisasi satuan pendidikan Ramah Anak,” tegas Rita Winardi kepada media ini
Menurutnya penambahan peserta kali ini merupakan keberlanjutan dari program penyiapan tenaga pendamping yang telah berjalan sebelumnya.
”Nah, ini merupakan Fasda yang angkatan kedua. Angkatan sebelumnya itu ada 35 orang,yang angkatan ini 20 orang dari semua sekolah dari tingkatan PAUD sampai SMA di Kota Timur, seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala DP3A Kutai Timur, Idham Cholid, mengatakan hingga saat ini fasilitator daerah yang telah terbentuk dari du4 angkatan pelatihan baru menjangkau sekitar 55 sekolah dari total sekitar 800 satuan pendidikan di Kutai Timur.
”Yang terjangkau baru 55 dari ratusan sekolah, 800 sekolah. Sekarang baru 55, masih sangat kecil,” ujar Idham.
Dia berharap para fasilitator yang telah dilatih dapat menularkan ilmu yang diperoleh kepada sekolah lain di wilayah masing-masing, sehingga seluruh satuan pendidikan di Kutai Timur pada akhirnya menerapkan prinsip ramah anak.
”Semua sekolah itu harus ramah bagi anak, karena kunci tumbuh kembang anak akan didahului oleh kondisi dan situasi sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak,” katanya.
lebih lanjut, Idham menambahkan, pihaknya akan melakukan monitoring pasca-pelatihan untuk menindaklanjuti hasil kegiatan ini di masing-masing sekolah. Ia juga mengajak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, serta organisasi profesi seperti Ikatan Psikolog untuk berkolaborasi mengawal program SPRA di Kutim.
Materi pelatihan disampaikan oleh Fasilitator Nasional SPRA, dr. Baharuddin, M.Pd. Peserta dibekali keterampilan memfasilitasi dan mendampingi satuan pendidikan lain, serta diharapkan membentuk jejaring fasilitator daerah untuk mengawal keberlanjutan program SPRA di wilayah masing-masing. (Butsainah/ADV/*)





