
APBD Perubahan 2025 Nihil Proyek Multiyears, Pembangunan Bakal Dilanjutkan 2026
SANGATTA – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, memastikan tidak ada alokasi anggaran untuk proyek multiyears atau tahun jamak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun 2025.
Keputusan ini nampaknya menunda rencana awal Pemerintah Kabupaten Kutim yang berencana akan melanjutkan kembali proyek-proyek pembangunan multiyears yang belum tuntas, seperti pembangunan jembatan Bengalon di Desa Sapaso Timur dan pembangunan jembatan di Kecamatan Tellen.
Jimmi menjelaskan bahwa kelanjutan proyek-proyek tersebut baru dapat dianggarkan pada APBD Murni tahun 2026. Hal ini dikarenakan tidak adanya anggaran yang tersedia dalam APBD Perubahan 2025. “Untuk pekerjaan multi years di APBD Perubahan, tahun ini tidak ada,” ujar Jimmi kepada sejumlah awak media belum lama ini
Lebih lanjut, Jimmi mengungkapkan bahwa kelanjutan proyek ini juga dipengaruhi oleh situasi di tingkat pusat. “Kita juga sambil menunggu dampaknya dari digantinya menteri keuangan yang baru ini, karena statement-nya beliau itu tidak akan melakukan Pemangkasan terkait dengan TKD. Kita optimis lagi kita di situ. Tapi paling tidak statement pemerintah itu kita bisa lebih fokus memusatkan pekerjaan secara maksimal. Kita berharap PMK 56 itu yang terkait dengan tata cara efisiensi itu itu bisa dicabut. Karena di dalamnya ada peralatan mesin dan infrastruktur. Kalau itu masih tetap dipakai ya berarti efisiensi itu masih berjalan.” tambahnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengakui bahwa pembangunan infrastruktur masih menjadi tantangan utama yang harus segera diselesaikan. Ia menegaskan, salah satu program prioritas yang akan kembali dilanjutkan adalah proyek multiyears meskipun sempat terkendala di periode sebelumnya.
“PR (pekerjaan rumah) saya luar biasa. Program multiyears yang saya gagas kemarin ternyata tidak berjalan dengan baik karena beberapa faktor. Tapi saya yakin, dalam periode ini kita bisa menuntaskannya,” ujar Ardiansyah.
Ia menambahkan bahwa kendala yang terjadi sebelumnya sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan waktu. “Waktu kemarin memang terlalu pendek, tapi jika dikerjakan dengan baik, pasti bisa berjalan dengan lancar,” ucapnya kepada sejumlah awak media belum lama ini.
Meskipun mengakui adanya masalah, Ardiansyah menolak jika proyek multiyears disebut gagal. Ia mencontohkan, proyek di Long Mesangat, Telen, dan Muara Bengkal berjalan baik, sementara di Sandaran masih banyak yang perlu diperbaiki. “Saya tidak mengatakan proyek multiyears gagal, tapi memang ada beberapa yang tidak berjalan dengan baik. Itu sebabnya saya meminta DPRD untuk ikut mengawasi para kontraktor di lapangan,” tegasnya.
Selain itu, Ardiansyah menyoroti kondisi jalan di Kutai Timur yang masih jauh dari ideal. “Sebagian besar jalan masih harus kita benahi agar layak digunakan oleh masyarakat,” katanya. Ia menyebutkan, hanya sekitar 30 persen jalan yang berada dalam kondisi baik. (*)






