Merajut Kisah di Tanah Kelahiran, Sarasehan Penuh Makna Bersama Sayid Anjas

Sangatta,– Di antara remangnya lampu dan hangatnya kebersamaan, Hotel Royal Victoria Sangatta menjadi saksi bisu pertemuan penuh makna. Pada Rabu (10/9/2025) malam, Wakil Ketua 1 DPRD Kutim sekaligus Sekretaris DPD II Partai Golkar Kutim, Sayid Anjas, menggelar sarasehan dan silaturahmi  dengan para tokoh masyarakat dan “pelaku sejarah” yang turut andil dalam perjalanan hidupnya.

Acara yang terkesan mendadak ini, justru menjadi momen istimewa. Sayid Anjas mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para tokoh yang hadir. “Merekalah para pelaku sejarah yang tidak boleh kita lupakan,” ujar Sayid Anjas, menyoroti peran penting mereka dalam membentuk pribadinya hingga bisa berada di posisi saat ini.

Dalam balutan suasana santai dan penuh kekeluargaan, Sayid Anjas berbagi kisah pribadinya yang menyentuh. Ia mengaku lahir 44 tahun lalu di sebuah toko di Sangatta, bukan di rumah sakit. “Tidak salah kalau saya jadi pengusaha,” candanya, menceritakan masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan dagang.

Momen haru muncul saat ia mengenang sosok-sosok yang berjasa, terutama orang tuanya. Ia juga bercerita tentang keajaiban amplop dan sarung yang dititipkan saat ia merantau untuk kuliah di Surabaya. Dengan bekal itu, ia bertemu dengan Gus Arifin, seorang pimpinan pondok pesantren yang kemudian merawatnya seperti anak sendiri. “Surat sakti itu membuat saya dipelihara sampai seperti anak sendiri,” kenang Sayid, menyoroti betapa kuatnya pengaruh orang-orang baik dalam hidupnya.

Perjalanan Sayid Anjas menjadi politikus adalah sebuah babak baru. Ia mengaku dunia politik bukanlah hal yang lumrah bagi keluarganya, yang lebih terbiasa dengan dunia wirausaha. Namun, semangatnya untuk terus belajar membuatnya mencari ilmu dari para senior.

Ia menyebut nama-nama besar seperti Pak Kasmidi, Pak Mahyunadi, dan Haji Rustam sebagai guru-guru politiknya. “Saya datang terus ke rumah beliau untuk diskusi, bercerita masalah pencalegan dan lain-lain,” ungkapnya, menegaskan bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja, melainkan berkat bimbingan dan dukungan banyak pihak.

Di akhir acara, Sayid Anjas menutup perbincangannya dengan penghormatan tulus kepada istrinya. Dengan kutipan puitis yang menyentuh, ia mengungkapkan perannya sebagai pendamping yang selalu mendampingi di samping, bukan di depan atau di belakang. “Berdirilah di sampingku karena engkau pendamping hidupku,” ujarnya, diiringi tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Sarasehan ini bukan hanya sekadar pertemuan, melainkan reuni yang penuh penghargaan. Sayid Anjas meminta masukan dan nasihat dari para sesepuh yang hadir, menunjukkan kerendahan hati dan kesediaannya untuk terus belajar. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan tidak lepas dari akar dan orang-orang yang berjasa di baliknya. Ini adalah malam di mana kisah-kisah berharga bertemu, mengikat janji untuk terus berkarya dan memberi sumbangsih bagi Kutai Timur.