Gerakan Solidaritas Kutai Timur Sampaikan Tiga Petisi Penting ke Polres Kutim

Kutai Timur, – Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Kutai Timur menggelar aksi damai di Kutai Timur, Minggu (31/8) malam. Aksi ini merupakan bentuk dukungan moral sekaligus desakan kepada aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus meninggalnya seorang pengemudi ojek online di Jakarta yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

Aksi yang berlangsung di malam hari ini dipimpin oleh Ketua KNPI Kutai Timur, Avivurahman Al Ghazali. Gerakan ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan penyampaian aspirasi dan solidaritas terhadap dinamika sosial yang terjadi di tingkat nasional. Mereka membawa tiga petisi penting yang ditujukan langsung kepada Polres Kutai Timur.

Dalam petisi tersebut, terdapat tiga poin utama yang disampaikan. Tuntutan pertama, mendesak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas akibat terlindas kendaraan barakuda saat kerusuhan di Jakarta. Mereka meminta proses hukum dilakukan secara terbuka dan transparan kepada publik.

Petisi kedua, menuntut agar Polres Kutai Timur tidak melakukan tindakan represif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Para peserta aksi menilai, tindakan represif berpotensi memperkeruh situasi dan dapat mengurangi kepercayaan rakyat terhadap institusi kepolisian.

Petisi ketiga, berisi ajakan untuk berkomitmen menjaga kondisi Kutai Timur agar tetap aman, damai, dan kondusif. Menurut para peserta aksi, keamanan daerah menjadi kunci utama dalam keberlanjutan pembangunan dan stabilitas sosial.

Avivurahman Al Ghazali menegaskan, apabila masyarakat dan aparat mudah terprovokasi, maka risiko perpecahan akan semakin besar. “Kalau Kutai Timur ikut terbelah, pembangunan pasti terhambat. Kepemudaan kita juga bisa pecah karena provokasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perjuangan rakyat harus terus dilakukan dengan cara-cara yang bijak. “Pesan tersampaikan, tapi paling penting jangan sampai ada aksi-aksi anarki. Aspirasi bisa disuarakan tanpa harus merusak atau melanggar hukum,” jelas Avivurahman.

Para peserta aksi juga berharap Polri bisa berbenah dan tidak lagi ada benturan antara rakyat dengan penegak hukum. “Rakyat dan aparat harus berjalan bersama membangun bangsa,” pungkasnya. Aksi ini sengaja digelar pada malam hari sebagai simbol ketenangan dan penghormatan terhadap korban. (Caya/*)