
Wujudkan SDM Unggul, Transformasi STAI-STIPER Menuju Universitas Kian Dekat
Sangatta,– Di tengah pelaksanaan wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta yang baru saja melepas 149 lulusannya pada Rabu (23/7/2025), terselip sebuah visi besar yang berpotensi mengubah wajah pendidikan tinggi di Kutai Timur, yakni penggabungan STAI dengan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) menjadi sebuah universitas. Ini bukan sekadar impian, melainkan target konkret yang tengah digarap serius oleh pemerintah daerah.
Visi besar ini bukan tanpa alasan, Asisten III Bidang Administrasi Umum sekaligus Ketua Tim Percepatan Penggabungan Yayasan, Sudirman Latif, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) adalah kunci utama mewujudkan Kutim yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
“Kata kuncinya ada di pengembangan sumber daya manusianya. Seluruh lembaga pendidikan harus mengambil peran, termasuk STAI,” ujarnya.
Menurutnya, hadirnya universitas lokal diharapkan dapat mencetak SDM yang tak hanya mumpuni secara teori dan praktik, tetapi juga memiliki karakter dan etika yang paripurna.
Bahkan perjalanan untuk menyatukan dua institusi ini sudah berlangsung kurang lebih setahun. Tim percepatan telah melakukan serangkaian koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Tinggi. Tak hanya itu, studi banding ke beberapa perguruan tinggi di luar daerah juga telah dilakukan untuk menggali informasi dan praktik terbaik.
“Kami sudah ke Kemenag, Kementerian Pendidikan Tinggi, bahkan sudah ke Banjarmasin dan studi tiru ke beberapa perguruan tinggi yang mirip,” papar Sudirman.
Namun, jalan menuju universitas tidak selalu mulus. Tantangan regulasi menjadi salah satu hambatan utama. Agar dapat bertransformasi menjadi universitas, institusi tidak bisa hanya mengandalkan program studi agama. “Kita harus memunculkan dua fakultas baru,” jelas Sudirman.
Ide-ide seperti pengembangan program studi Manajemen Pariwisata dan Bisnis Digital sedang dipertimbangkan untuk memperkaya pilihan fakultas non-agama. Alternatif lainnya adalah menjalin kerja sama atau “mengambil jurusan” dari perguruan tinggi lain yang sudah ada.
Meskipun prosesnya diakui tidak mudah dan membutuhkan ketekunan, Sudirman Latif tetap optimistis. Persyaratan-persyaratan penting telah terkumpul, dan kini tinggal menunggu koordinasi internal untuk finalisasi.
Selain itu, dari segi sarana dan prasarana, Sudirman menilai bahwa fasilitas yang dimiliki STAI dan STIPER sudah sangat memadai. Ia membayangkan sebuah universitas dengan dua kampus terpisah namun dalam satu payung lembaga. Fakultas Agama berpusat di STAI, sementara Fakultas Pertanian dan kemungkinan Budaya bisa berlokasi di STIPER. (Butsainah/*)





