
Dispora Kutim Sukses Gelar Silaturahmi Menyumpit: Bentuk Karakter Unggul Lewat Warisan Budaya
SANGATTA,– Di tengah pesatnya arus modernisasi dan tantangan zaman, Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur (Kutim) kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan budaya sekaligus membentuk karakter generasi muda. Melalui gelaran “Silaturahmi dan Latihan Bersama Penyumpit se-Kalimantan” pada Sabtu (14/6), Dispora Kutim berhasil menarik perhatian ratusan pemuda untuk mengenal dan mendalami olahraga tradisional menyumpit.
Acara yang dipusatkan di halaman Kantor Dispora Kutim ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, melainkan sebuah forum edukatif yang menanamkan nilai-nilai luhur. Sebanyak 202 penyumpit dari 22 komunitas di seluruh Kalimantan berkumpul, tidak hanya untuk mengasah ketangkasan, tetapi juga untuk mempererat persaudaraan dan yang terpenting, membentuk karakter diri.
Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, yang mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, secara simbolis membuka acara dengan pelepasan sumpit perdana. Dalam sambutannya, Basuki menekankan bahwa pemerintah daerah akan selalu mendukung kegiatan positif semacam ini.
“Pemerintah Kabupaten Kutim akan selalu mendukung kegiatan positif seperti ini,” ujar Basuki. Ia menambahkan bahwa menyumpit, sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi Kalimantan, memiliki peran strategis sebagai penyeimbang di era digital. “Kegiatan seperti ini perlu ditekankan pada pelajar agar terhindar dari kegiatan negatif seperti narkoba, balap liar, dan judi online,” tegasnya, menyoroti dimensi preventif dari olahraga tradisional ini.
Menurut Basuki, menyumpit mengajarkan ketenangan, fokus, dan kehati-hatian, nilai-nilai yang sangat esensial bagi pembentukan karakter positif pada generasi muda.
Senada dengan itu, Ketua Panitia sekaligus Ketua Komunitas Olahraga Tradisional Sumpit Burui Put Sangatta, Nikodimus, menjelaskan filosofi di balik kegiatan ini. “Kami ingin anak-anak muda mengenal ini sebagai bagian dari jati diri mereka. Ini bukan hanya tentang membidik tepat sasaran, tapi juga menjaga warisan dan membentuk karakter,” ungkap Niko, sapaan akrab Nikodimus.
Ia menambahkan, latihan bersama ini sengaja tidak dijadikan ajang kompetisi, melainkan ruang belajar lintas komunitas. Peserta dari berbagai latar belakang usia dan daerah, mulai dari Malinau, Bontang, Samarinda, Kutai Barat, hingga Kukar, saling berbagi teknik, pengalaman, dan filosofi menyumpit yang diwarisi dari leluhur.
Para peserta, khususnya generasi muda, tampak antusias. Mereka berinteraksi dengan penyumpit senior, belajar mengatur napas, memilih sudut tembak, dan memahami bahwa kesabaran serta ketenangan adalah kunci keberhasilan. Momen-momen pertukaran pengetahuan, bahkan inovasi penggunaan bahan lokal untuk sumpit yang lebih ringan, menjadi bukti nyata semangat kebersamaan yang terbangun.
Meski tak ada hadiah materi yang ditawarkan, yang dibawa pulang oleh para peserta jauh lebih berharga: rasa memiliki terhadap budaya sendiri dan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa budaya tidak akan mati selama ada yang merawatnya. Di tengah gempuran modernisasi, warisan seperti menyumpit justru menemukan relevansinya sebagai pembentuk karakter, penguat komunitas, dan pengantar nilai-nilai luhur. Bagi Kutim, acara ini adalah cerminan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari ruang-ruang kecil yang bermakna, menanamkan harapan agar kegiatan serupa dapat terus menjalar, menyulut kesadaran bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan fondasi kokoh bagi masa depan generasi penerus bangsa. (*)





