
Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 Resmi Ditutup, Bupati Tekankan Pentingnya Menjaga Warisan Leluhur
Sangatta – Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman secara resmi menutup di kegiatan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road, Sangatta, Selasa (13/10/2026). Penutupan acara ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap besarnya kekayaan sejarah dan budaya leluhur Kutai yang telah mengakar sejak abad keempat.
Dalam sambutannya, Ardiansyah Sulaiman menekankan bahwa pergelaran adat ini sarat akan nilai sejarah yang harus diwariskan ke generasi penerus. Ia mengingatkan rekam jejak panjang Kutai, mulai dari masa kerajaan tertua di Indonesia di bawah kepemimpinan Raja Kudungga yang terukir dalam Prasasti Yupa, hingga masa keistimewaan Kutai yang pernah diakui melalui Undang-Undang Darurat Tahun 1953.
“Kutai memiliki kekayaan adat dan budaya yang mungkin sulit untuk kita hitung karena begitu besar. Pelan tapi pasti, kita akan terus mengenalkan kembali nilai leluhur itu kepada kita semua,” ujar Ardiansyah.
Ardiansyah juga menyoroti penetapan warisan budaya tak benda di Kutai Timur. Meski saat ini baru tercatat empat warisan budaya, ia meminta masyarakat tidak pesimis. Pasalnya, pemangku adat Kutai Timur telah memiliki pedoman pelestarian yang jelas dan terukur melalui Undang-Undang Panji Sraten dan Undang-Undang Braja Neti.
“Jadi tidak hanya sekedar sebagai pemangku adat tetapi ada payung sehingga urutan budaya, urutan adat, kegiatan dan sebagainya itu terukur dengan undang-undang tersebut,” terangnya
Selain warisan budaya, Ardiansyah Sulaiman turut menyinggung pentingnya menjaga warisan alam yang memiliki nilai kesejarahan. Salah satunya adalah kawasan perlindungan alam yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Kutai.
“Ini juga warisan yang tidak boleh kita lupakan. Karena daerah ini sejarahnya begitu cukup kuat. Sehingga Bapak Ibu sekalian patut juga kita jaga wilayah tersebut. Hari ini kita sudah mulai menggelar upacara adat dan budaya tersebut sebagai bentuk penghargaan kita kepada adat dan budaya leluhur kita. Nah, mudah-mudahan hadirnya kita di sini. Pelan, tapi pasti kita memahami itu sebagai bentuk dan bagian daripada perkembangan adat dan budaya. Sebab tidak mungkin manusia hidup tanpa budaya,” imbuhnya
Di akhir acara, ia memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh panitia, Majelis Adat Istiadat Kutai, serta kehadiran Sultan Kutai Kartanegara yang turut membersamai rangkaian acara selama empat hari berturut-turut.
“Mudah-mudahan makna hakiki dari pada Erau Adat Pelas Benua Kutim ini adalah kembali kepada kita semua sehingga kehidupan yang terbaik pada kita adalah kehidupan yang saling menghargai antara sesama makhluk, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia tunduk kepada Al-Khalik sang penciptanya,” pungkasnya (ADV/*)





