
Pusat Tantang Kutim Perbanyak Usulan Irigasi, Direktur Kementan: Tanam Padi 3 Kali Lebih Untung dari Sawit
Sangatta – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian memberikan tantangan besar bagi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk mempercepat perwujudan swasembada pangan. Pusat meminta Kutim untuk melipatgandakan usulan pembangunan irigasi pertanian guna mendukung cetak sawah dan peningkatan produksi padi di wilayah tersebut.
Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja Direktur Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian sekaligus Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan Kalimantan Timur, Liferdi Lukman, yang disambut langsung oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, di Ruang Arau Kantor Bupati Kutim, Kamis (
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menyampaikan bahwa kedatangan Direktur Irigasi tidak hanya membawa angin segar, tetapi juga tantangan nyata bagi pemerintah daerah.
“Hari ini Pak Direktur Irigasi datang ke Kutim membawa ‘oleh-oleh’ sekaligus tantangan agar kita mempersiapkan penambahan usulan irigasi. Saat ini kita baru memiliki empat usulan, beliau minta minimal 10 usulan, bahkan kalau bisa lebih,” ujar Mahyunadi.
Mahyunadi mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini ada pada minat masyarakat. Banyak petani yang enggan menanam padi karena fasilitas pendukung yang belum maksimal. Oleh karena itu, bantuan fasilitas dari pusat ini diharapkan dapat mengubah paradigma tersebut.
Terkait regulasi kewenangan daerah yang saat ini banyak dipangkas, Mahyunadi menyebut sinergi dengan pusat adalah kunci utama. “Alhamdulillah, kedatangan Pak Direktur memastikan bahwa pusat sedang gencar. Jika daerah siap, pusat akan mengeluarkan anggarannya. Saya targetkan mudah-mudahan implementasi ini bisa tercapai minimal 90 persen,” tegasnya.
Sebagai langkah inovatif, Pemkab Kutim tidak lagi hanya menunggu usulan lahan dari masyarakat. Pemerintah berencana mencetak sawah baru di atas lahan clear and clean (termasuk potensi pemanfaatan lahan eks-tambang) yang nantinya akan dikelola langsung oleh pemerintah dan dikerjasamakan dengan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Irigasi Pertanian, Liferdi Lukman, melihat potensi Kutim yang luar biasa untuk menjadi sentra produksi beras, terutama karena ketersediaan sumber air yang melimpah dan hanya membutuhkan sentuhan pengelolaan yang tepat.
Liferdi juga menyoroti keengganan masyarakat menanam padi yang sering kali dibandingkan dengan budidaya kelapa sawit yang dianggap lebih santai. Ia membantah anggapan bahwa sawit lebih menguntungkan secara finansial.
“Padahal kalau kita hitung dan saksikan sendiri dari pengalaman di Jambi maupun Riau, usaha tani padi ini tiga kali lebih menguntungkan daripada sawit. Ini yang perlu kita sosialisasikan. Jika masyarakat sudah tahu fakta keuntungannya, tentu mereka akan memilih komoditas tersebut,” ungkap Liferdi.
Pemerintah Pusat sangat mengapresiasi langkah konkret Pemerintah Kabupaten Kutim yang tidak sekadar memberikan janji, melainkan tindakan nyata melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Liferdi menyebutkan beberapa program unggulan Kutim yang patut diapresiasi, antara lain, alokasi APBD untuk Asuransi Petani Padi dan anggaran untuk Rehabilitasi Sawah yang selama ini mangkrak.
Berbekal komitmen kuat dari pemerintah daerah dan potensi alam yang ada, Liferdi optimistis target pengembangan puluhan ribu hektare lahan pertanian dapat tercapai.
Menjawab keraguan mengenai target perluasan lahan, Liferdi menegaskan bahwa angka tersebut sangat realistis. “Terkait target 20.000 hektare dalam lima tahun ini, tentunya kita memasang target bukan asal-asalan. Ada ukuran dan analisis matang di baliknya. Kami yakin Kutim bisa menjadi salah satu sentra padi untuk mendukung program Presiden terkait Swasembada Pangan Berkelanjutan,” pungkasnya. (Caya/*)






