
Biaya Transportasi Tekan Harga Pisang Petani Kutim

Sangatta – Biaya transportasi nampaknya masih menjadi faktor utama yang menekan harga pisang di tingkat petani di Kutai Timur (Kutim). Hal ini diungkapkan oleh Ketua Koperasi Bina Taruna Mandiri, Priyanto.
“Kendala utamanya adalah mengeluarkan buah pisang dari kebun ke pinggir jalan, karena masih jalan tanah, karena sulit dilalui kendaraan. Kalau sudah di pinggir jalan diangkut ke Pelabuhan, itu sudah lancar. Bahkan kalau pelabuhan pengiriman bisa dilakukan melalui Pelabuhan Maloy maka harga margin dari petani, bisa naik, tidak di Rp7000, tapi bisa naik ke Sepuluh Ribu Ruiah,” kata Priyanto kepada media ini belum lama ini
Priyanto menjelaskan, saat ini harga pisang di tingkat petani hanya Rp 7.000 per sisir. Harga tersebut terbilang rendah karena tingginya biaya transportasi dari kebun ke Pelabuhan Samarinda.
“Seandainya jalan untuk pengangkutan keluar kebun sudah bagus, pengiriman bisa lewat Pelabuhan Maloy margin harga bisa untuk petani. Artinya, harga bisa naik di tingkat petani, dari harga hari ini Rp 7000 jadi Rp 10.000 per sisir, jika pengangkutan dari kebun bagus, pengiriman bisa dilakukan dari Pelabuhan Maloy,” ujar Priyanto.
Koperasi Bina Taruna Mandiri yang berdiri di Kecamatan Kaubun, Kutim ini sudah mengekspor ribuan ton pisang Gepok jenis Grecek ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Iran, Pakistan, dan Amerika Serikat. Ekspor dilakukan secara rutin.
Koperasi ini tidak hanya sebagai pengumpul pisang Gepok, tetapi juga secara mandiri membudidayakan tanaman Pisang Gepok Grecek ini untuk dikelola dan dipasarkan. Koperasi ini juga bekerja sama dengan petani di luar anggota mereka untuk membantu memasarkan dan mengembangkan pisang mereka. (*/ADV)





