
Bupati Kutim: Pembangunan Harus Dirasakan hingga Wilayah Terpencil
Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menegaskan pembangunan daerah harus dirasakan seluruh masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Pemerataan infrastruktur, akses listrik, serta pelayanan dasar menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemajuan daerah yang inklusif.
Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutan pada Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur di halaman Kantor Bupati Kutim, Sangatta, Senin (12/10/2026).
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang dilaksanakan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah.
Menurutnya, pembangunan harus diwujudkan melalui perbaikan jalan dan jembatan, pemerataan akses air bersih dan listrik, penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak, serta peningkatan konektivitas untuk membuka akses pelayanan dan peluang ekonomi.
“Bagi masyarakat desa, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik berarti kesempatan bagi anak untuk belajar, bagi pelaku usaha untuk berkembang, serta terbukanya akses terhadap teknologi, informasi, dan pelayanan dasar,” demikian pesan dalam sambutan Bupati.
Salah satu upaya pemerataan pembangunan yang disampaikan dalam sambutan tersebut adalah perluasan akses listrik bagi masyarakat desa. Pada Agustus 2026, enam desa di Kecamatan Sangkulirang, yakni Saka, Palawan, Tepian Terap, Mandu Dalam, Mandu Pantai Sejahtera, dan Peridan, telah menikmati listrik PLN selama 24 jam.
“Kemudian, pada 5 Oktober 2026, empat desa di Kecamatan Batu Ampar, yaitu Beno Harapan, Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Himba Lestari, juga resmi menikmati listrik 24 jam setelah menanti selama puluhan tahun,” terangnya
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan hingga ke wilayah yang jauh dari pusat pertumbuhan. Meski demikian, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan rumah dalam memperkuat infrastruktur dan memperluas akses listrik di sejumlah wilayah.
“Bagi masyarakat desa, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik berarti kesempatan bagi anak untuk belajar, bagi pelaku usaha untuk berkembang, serta terbukanya akses terhadap teknologi, informasi, dan pelayanan dasar,” bebernya
Bupati menegaskan, pembangunan Kutim harus terus dilanjutkan dengan semangat kebersamaan agar tidak ada masyarakat yang tertinggal akibat jarak maupun kondisi geografis.
“Karena itu, pekerjaan kita belum selesai. Masih ada wilayah yang membutuhkan penguatan infrastruktur dan akses listrik. Kita ingin pembangunan terus bergerak hingga tidak ada masyarakat Kutai Timur yang tertinggal hanya karena jarak dan kondisi geografis,” bebernya
Melalui tema HUT ke-27, “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”, pembangunan diharapkan mampu mendorong kemajuan yang lebih merata, memperkuat kemandirian desa, serta meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat Kutai Timur.
“Pertumbuhan harus dirasakan bersama, tanpa ada wilayah, kelompok masyarakat, maupun generasi yang tertinggal. Sebab, kemajuan Kutai Timur bukan tentang seberapa jauh sebagian dapat melangkah, tetapi tentang seberapa banyak masyarakat dapat tumbuh dan maju bersama,” pungkasnya (ADV/*)





