Ziarah Makam Leluhur, Tandai Pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin berziarah ke Makam Almarhum Datuk Sampai bin Lohom. Foto: Habibah/Pro Kutim.

Sangatta – Prosesi ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom resmi menjadi penanda dimulainya rangkaian acara Erau Adat Pelas Benua Kabupaten Kutai Timur (Kutim) 2026, Jumat (9/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jalan Guru Besar, Sangatta, tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin. Turut hadir Ketua DPRD Kutim Jimmi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, serta para pemangku adat setempat.

Datuk Sampai bin Lohom merupakan salah satu tokoh sejarah penting yang tercatat pernah menjabat sebagai Kepala Adat di Sangatta pada periode 1855–1901.

Dilansir dari Prokutim Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa ziarah yang dilaksanakan sesuai panduan Kesultanan Kutai Kartanegara ini bukan sekadar tradisi seremonial. Kegiatan ini merupakan wujud penghormatan kepada para pendahulu sekaligus penegasan bahwa Sangatta memiliki akar sejarah yang panjang.

“Pagi ini kita berziarah ke makam para leluhur Kutai Timur. Saya baru mengetahui dari catatan yang ada bahwa (kiprah beliau) dari tahun 1855 hingga 1901. Ini menunjukkan bahwa Sangatta ternyata sudah memiliki perjalanan sejarah yang panjang,” ujar Ardiansyah.

Lebih lanjut, Ardiansyah mengingatkan bahwa adat dan budaya lokal harus menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan daerah. Penghormatan terhadap sejarah, menurutnya, akan menjaga identitas masyarakat di tengah roda pembangunan.

“Adat dan budaya merupakan salah satu modal utama dalam pembangunan. Kalau kita tidak mengenal adat dan budaya, kita mungkin akan kesulitan melihat arah yang harus kita lakukan,” tegasnya.

Bupati berharap seluruh rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026 dapat disosialisasikan secara masif agar generasi muda Kutim semakin mengenal dan memahami kebudayaan daerahnya.

Usai prosesi ziarah makam, rangkaian pembukaan Erau Adat Pelas Benua dilanjutkan dengan agenda doa bersama serta perlombaan olahraga tradisional. Pemerintah daerah berharap pelestarian adat ini tidak hanya berhenti pada ritual tahunan, melainkan tumbuh menjadi kesadaran bersama untuk mewariskan identitas Kutai Timur kepada generasi mendatang. (*)