
Optimalkan Dana Rp250 Juta per RT, Bupati Kutim Targetkan Angka Kemiskinan Bisa Turun Drastis pada 2029
Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menargetkan angka kemiskinan di wilayahnya turun drastis hingga menyentuh level 4 sampai 5 persen pada tahun 2028 atau 2029. Target tersebut diupayakan melalui optimalisasi pemanfaatan program dana Rp250 juta per Rukun Tetangga (RT).
Hal ini ditegaskan Ardiansyah Sulaiman saat memberikan sambutan dalam acara pengambilan sumpah dan pelantikan tujuh anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Penggantian Antarwaktu (PAW) di Kecamatan Bengalon, Minggu (27/9/2026).
Ardiansyah menjelaskan, anggaran Rp250 juta per RT tersebut telah disalurkan, salah satunya di Desa Sepaso Selatan. Anggaran itu terdiri dari Rp100 juta pada APBD murni dan Rp150 juta pada anggaran perubahan.
“Asumsi yang s4ya coba buat ya, apabila program ini berjalan dengan baik, insyaallah di 2028 atau 2029 tidak ada lagi orang yang miskin di wilayah tersebut. Kenapa? Karena sudah mendapatkan keterampilan,” ucapnya
Lebih lanjut Ia menekankan agar dana tersebut difokuskan untuk membiayai kegiatan masyarakat, bukan semata-mata untuk pembangunan fisik.
“Jadi, kalau mereka ingin mel4kukan pelatihan keterampilan di mana saja boleh, di kantor desa atau di lapangan boleh. Jangan sampai bangunannya ada, tapi tidak ada kreativitas di dalamnya,” ujar Ardiansyah Sulaiman.
Bagi warga yang telah mengikuti pelatihan namun terkendala modal usaha, Ardiansyah memastikan Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Koperasi telah menyiapkan dukungan permodalan. Ia juga mengimbau perusahaan-perusahaan di Kutim untuk turut memberikan bantuan modal bagi warga yang ingin mengembangkan usahanya.
“Dan perusahaan-perusahaan juga tidak boleh tinggal diam. Berikan kesempatan modal kepada warga-warga setempat yang sudah melakukan keterampilan tapi tidak punya modal untuk mengembangkan. Ya,” ucapnya
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar program pelatihan tepat sasaran. Warga yang sudah terampil atau memiliki usaha rumah tangga tidak perlu lagi diikutkan dalam pelatihan. Jika suatu RT tidak membutuhkan pelatihan, dana tersebut dapat dialihkan untuk program lain.
“Saya berh4rap bahwa pemanfaatan dana RT itu juga harus betul-betul on the track dan saya berharap juga perusahaan membantu apabila ada pengembangan berikutnya dari warga yang ingin maju silakan untuk diberikan bantuan,” tambahnya
Lebiah lanjut, salah satu inovasi pemanfaatan dana RT yang diapresiasi Bupati adalah pemasangan tiang listrik mandiri oleh warga di daerah terpencil dengan biaya efisien sekitar Rp40 juta hingga Rp50 juta. Menurutnya, langkah ini terinspirasi dari semangat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
Melalui pemanfaatan dana RT yang produktif dan tepat sasaran ini, Ardiansyah optimistis kemandirian ekonomi masyarakat dapat terwujud. “Hari ini kemiskinan di Kutai Timur masih masuk di angka 9 persen. Kita berharap pada tahun 2029 rencana kita itu turun sampai ke 4 atau 5 persen,” pungkasnya. (Caya/ADV/*)





