Mahasiswa di Kutai Timur Gelar Aksi, Soroti Lingkungan hingga Kenaikan BBM

Kutai Timur – Massa dari Koalisi Kutim Menggugat yang terdiri dari PMII dan GMNI menggelar aksi unjuk rasa di Sangatta, Kutai Timur, Senin (15/6/2026). Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan mulai dari penanganan masalah lingkungan hingga protes soal kenaikan harga BBM.

Pantauan di lokasi, massa aksi mendesak DPRD dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim untuk bersikap tegas terhadap perusahaan yang masuk dalam daftar hitam atau berperingkat ‘Merah’ dalam penilaian PROPER. Mahasiswa menilai penanganan masalah lingkungan di Kutim selama ini masih jauh dari kata memuaskan.

​”Setiap tahun persoalan lingkungan terus muncul, namun masyarakat belum melihat adanya langkah yang benar-benar memberikan efek jera. Karena itu kami meminta adanya keterbukaan dan tindakan nyata terhadap perusahaan yang bermasalah,” ujar Ketua DPC GMNI Kutai Timur, Deo Datus Feran Kacaribu, di lokasi aksi.

​Selain masalah lingkungan, mahasiswa juga menyoroti legalitas operasional perusahaan di Kutai Timur. Massa mendesak pemerintah daerah bekerja sama dengan ATR/BPN untuk melakukan audit menyeluruh, terutama bagi perusahaan yang diduga belum mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) atau bermasalah dalam penggunaan lahan.

​”Perusahaan harus menjalankan aktivitasnya sesuai ketentuan hukum. Jika ada yang belum memenuhi persyaratan, pemerintah wajib bertindak tegas demi memberikan kepastian hukum kepada masyarakat,” tegas Deo.

​Dalam aksinya, massa juga menyoroti keselamatan warga di jalan raya. Mereka mendesak aparat menertibkan kendaraan pengangkut material galian C yang kerap beroperasi tanpa penutup terpal, sehingga debu dan ceceran material dinilai membahayakan pengguna jalan.

​Isu ekonomi pun tak luput dari kritik massa. Mahasiswa mengaku khawatir dengan kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang dianggap memicu efek domino bagi biaya hidup masyarakat.

“Kenaikan harga BBM selalu berdampak pada sektor lain. Karena itu pemerintah harus hadir untuk melindungi masyarakat dari beban ekonomi yang semakin berat,” imbuhnya. (*)