Refleksi Ramadhan, Bambang Soepriyadi: Menjadikan Puasa sebagai Madrasah Kepemimpinan

SAMARINDA – Di tengah dinamika sosial-politik yang kian menghangat, Plt. Ketua DPD Kalimantan Timur, (Kaltim) Bambang Soepriyadi, mengajak seluruh elemen masyarakat dan para pemangku kebijakan untuk menjadikan momentum bulan suci Ramadhan sebagai ajang refleksi kepemimpinan.

​Dalam tulisan refleksinya yang bertajuk “Ramadhan: Melahirkan Pemimpin yang Peduli”, Bambang menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “madrasah ruhani” yang bertujuan membentuk karakter pemimpin yang berintegritas dan memiliki empati sosial tinggi.

​Bambang menggarisbawahi bahwa dalam pandangan Islam, kekuasaan merupakan amanah berat yang menuntut pertanggungjawaban, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan Tuhan.

​”Kekuasaan bukan sekadar legitimasi formal, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual yang kelak akan dihisab,” tulisnya.

Menurutnya, prinsip merit system (memberikan jabatan kepada yang layak) dan penegakan keadilan adalah dua pilar utama yang harus dijaga oleh setiap pemimpin.

​Ia juga menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam pengelolaan anggaran publik. Jika selama Ramadhan umat Muslim mampu menahan diri dari hal yang halal, maka pemimpin seharusnya memiliki “rem” yang lebih kuat dalam urusan fasilitas negara dan kekuasaan.

​Salah satu poin krusial yang diangkat Bambang adalah mengenai etika dalam tata kelola publik, termasuk fenomena relasi kekuasaan dalam lingkaran keluarga atau politik dinasti. Meski secara prosedur demokrasi hal tersebut bisa dianggap sah secara hukum, ia mengingatkan adanya standar etika yang lebih tinggi dalam Islam.

​”Islam tidak hanya berbicara tentang legalitas, melainkan juga etika dan kemaslahatan. Penting untuk menutup pintu konflik kepentingan demi menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.

​Ia mengambil keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang menolak mengangkat putranya sendiri, Abdullah bin Umar, sebagai gubernur demi menghindari prasangka dan menjaga marwah kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya harus adil secara fakta, tetapi juga harus tampak adil di mata rakyat.

​Di akhir refleksinya, Bambang Soepriyadi merangkum karakteristik pemimpin yang diharapkan lahir dari bulan suci in, yakni ​takut pada hisab Allah, menjadikan jabatan sebagai ibadah, Transparan dan ​mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

​”Ramadhan datang untuk memperbaiki kita. Jika setelah bulan ini kita masih memandang kekuasaan sebagai simbol status, berarti kita belum lulus dari madrasahnya,” tutup Bambang. (Habibi/*)