Fenomena Unik di Kutim : Lowongan Kerja Melimpah, Tapi Angka Pengangguran Malah Naik

oplus_0

Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tengah menghadapi situasi ketenagakerjaan yang tidak biasa. Di satu sisi, data statistik menunjukkan kenaikan angka pengangguran, namun di sisi lain, sektor industri khususnya perkebunan kelapa sawit justru menjerit karena kesulitan mendapatkan tenaga kerja.

​Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kutim meningkat menjadi 6,20 persen, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 5,76 persen. Ironisnya, ketersediaan lapangan kerja sebenarnya melimpah.

PT Subur Abadi Plantations (SAP) salah satu perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Kecamatan Telen, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai sulitnya mencari tenaga kerja lokal.

Ditemui di Kantor Disnakertrans Kutim, Asisten HRD PT Subur Abadi Plantations, Dwi Puji Hartono, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sangat membutuhkan tenaga kerja untuk posisi operasional tanaman, khususnya petugas panen (pemanen) dan perawat tanaman.

“Kurang lebih ada sekitar 100 lebih tenaga kerja yang dibutuhkan,” Kata Dwi Puji Hartono saat ditemui di Disnakertrans Kutim, Senin (2/2/2026)

​Bahkan proses rekrutmen sebenarnya telah berjalan sejak Desember 2025 lalu secara kontinu. Namun, hingga saat ini, jumlah pendaftar dari wilayah sekitar perusahaan (Ring Satu) tergolong sangat minim.

​”Tenagakerja lokal sebenarnya ada, tapi tidak banyak. Paling hanya satu atau dua orang saja. Untuk jabatan tertentu mungkin terisi, tapi untuk operasional lapangan seperti panen, nampaknya kurang diminati,” ujar Dwi.

Padahal, perusahaan telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang bagi para pekerja, di antaranya, Gaji standar sesuai regulasi (UMK), ​Fasilitas Mess gratis, ​Akses listrik dan air bersih. Jaminan kesehatan (BPJS).

Namun posisi lowongan pekerjaan yang tersedia dilaporkan masih kurang diminati oleh masyarakat setempat, meski informasi penerimaan tenaga kerja juga sudah disampaikan ke Pemerintah Desa hingga Kecamatan.

​Menyikapi kekosongan posisi yang tak kunjung terisi oleh tenaga kerja lokal, PT Subur Abadi Plantations akhirnya mengambil langkah strategis. Perusahaan secara resmi telah mengajukan permohonan izin kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) agar bisa melakukan rekrutmen tenaga kerja dari luar daerah.

​”Pekerjaan di lapangan harus tetap jalan karena menyangkut operasional tanaman. Kami tetap memprioritaskan jika ada warga Ring Satu yang ingin bergabung, namun sambil berjalan, kami juga mencari tenaga kerja dari luar karena kebutuhan yang mendesak,” tambah Dwi.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kutai Timur, Trisno, menanggapi serius terkait tingginya angka pengangguran di Kutai timur yang menyentuh angka 6 persen. Namun, ia menekankan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan fenomena yang cukup unik, yakni lowongan kerja sebenarnya tersedia luas, namun peminat lokal minim.

​Trisno mengidentifikasi bahwa narasi mengenai kurangnya perhatian pemerintah terhadap penyerapan tenaga kerja tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, banyak perusahaan di Kutai Timur yang justru kesulitan mendapatkan pelamar dari masyarakat setempat meskipun fasilitas yang ditawarkan sudah memadai.

​Salah satu contoh nyata yang diangkat adalah PT SAP dan beberapa perusahaan lain yang mengajukan permohonan rekrutmen tenaga kerja dari luar daerah karena kebutuhan di tingkat lokal tidak terpenuhi.

“Banyak perusahaan butuh tenaga kerja lokal dan mereka sudah berupaya melakukan rekrutmen. Buktinya, ada rekomendasi dari Camat sebagai upaya memprioritaskan warga terdekat. Namun faktanya, jumlah pelamar lokal tetap tidak banyak,” ujar Trisno.

​Berdasarkan hasil evaluasi Disnakertrans, tersendatnya penyerapan tenaga kerja ini bukan disebabkan oleh ketiadaan peluang, melainkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara lowongan yang tersedia dengan keinginan masyarakat.

Trisno mengamati adanya tren di mana pencari kerja lokal lebih memilih bekerja di sektor ritel atau perkotaan meski dengan pendapatan total yang lebih rendah dibandingkan bekerja di sektor perkebunan

​”Banyak yang memilih sektor ritel karena faktor pilihan atau lokasi di kota, padahal kualifikasi pendidikannya setara. Ini membuktikan bahwa pengangguran bukan hanya soal tidak ada kerjaan, tapi soal pilihan dan passion,” tegasnya.

​Karena itu, Disnakertrans Kutim mengaku tidak tinggal diam. Pemerintah akan membangun komunikasi intensif dengan seluruh perusahaan untuk memetakan potensi tenaga kerja yang dibutuhkan.

​Ke depan, peran Balai Latihan Kerja (BLK) akan diperkuat tidak hanya untuk mencetak operator alat berat, tetapi juga tenaga kerja non-formal yang ahli di bidang spesifik namun sangat dibutuhkan perusahaan.

​”Pekerjaan seperti pruning (pemangkasan) mungkin terlihat sederhana, tapi itu butuh keahlian. Kami ingin mendorong penyediaan tenaga kerja yang benar-benar bersesuaian dengan kebutuhan riil di lapangan,” tutup Trisno. (*)