Jaga Hutan, Desa Suka Damai Raih Insentif Karban Rp 300 Juta

Foto Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat melakukan penanaman pohon.

TELUK PANDAN, – Masyarakat Desa Suka Damai, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur (Kutim), mencatatkan keberhasilan signifikan dalam pengelolaan lingkungan. Berkat dedikasi selama bertahun-tahun dalam menjaga kelestarian hutan, desa tersebut resmi menerima insentif karbon sebesar Rp 300 juta melalui skema carbon benefit sharing.

Dana ini merupakan pengakuan dan pembayaran jasa lingkungan atas upaya kolektif warga dalam menurunkan emisi karbon dan mencegah perambahan serta pembakaran liar di kawasan hutan desa.

Bupati Kutim, H Ardiansyah Sulaiman, mengapresiasi capaian ini, menyebut Suka Damai sebagai cermin nyata keberhasilan ekonomi hijau yang berakar dari kesadaran masyarakat.

“Warga Suka Damai telah membuktikan bahwa menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab moral, tapi juga sumber kesejahteraan. Kutim punya potensi besar di sektor karbon, dan desa ini adalah bukti bahwa ekonomi hijau bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati Ardiansyah.

Beliau menambahkan bahwa kesuksesan ini akan menjadi pijakan penting bagi Pemerintah Daerah untuk memperluas penerapan program serupa di desa-desa lain yang berkomitmen menjaga hutan, sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi Kutim.

Kepala Desa Suka Damai, Nurdin, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya. Ia menjelaskan bahwa insentif ini merupakan hasil dari upaya keras warga bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) yang rutin melakukan patroli, reboisasi, dan pengawasan.

“Selama ini kami hanya berupaya agar hutan tetap lestari. Tapi ternyata, alam juga membalas kebaikan itu dengan rezeki,” tutur Nurdin.

Dana Rp 300 juta tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat kelembagaan desa, mendukung kegiatan konservasi dan membiayai pelatihan ekonomi produktif berbasis hasil hutan non kayu dan wisata alam edukatif.

Camat Teluk Pandan, Anwar, menegaskan bahwa Suka Damai adalah potret sejati pembangunan berkelanjutan. “Mereka menjaga hutan dengan kesadaran kolektif, bukan karena proyek, tapi karena rasa memiliki. Ini bukti nyata bahwa pelestarian lingkungan bisa menjadi sumber PAD dan kesejahteraan,” tutupnya. (*/ADV)