
Gemuruh 5.000 Rebana Iringi Santri Kutim Bersholawat: Harmoni Iman dan Cinta Tanah Air
Sangatta — Langit malam di Kutai Timur tampak cerah ketika ribuan santri berkumpul di Lapangan Polder Ilham Maulana, Kelurahan Teluk Lingga, Sangatta Utara. Mengenakan busana putih dan peci, mereka duduk rapi dengan rebana di tangan.
Dentuman irama khas rebana berpadu dengan lantunan sholawat menggema ke seluruh penjuru kota. Inilah momen sakral dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang dirayakan dengan semangat penuh kebersamaan dan cinta tanah air.
Sebanyak 5.000 santri dari berbagai pondok pesantren di Kutai Timur ikut ambil bagian dalam parade dan bersholawat bersama. Irama rebana yang dimainkan secara serempak menciptakan suasana haru dan megah, seolah menjadi simbol kekuatan iman dan persatuan umat.
Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, didampingi Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, perwakilan Danlanal Sangatta, Kapten Laut Nasution, Ketua PCNU Kutim, Sismanto, Kadispora Kutim, Basuki Isnawan, Penceramah Kiai M. Hamdan Asyrofi, Ketua Lembaga PCNU Kutim, Ketua Panitia AKP Suparmin dan Kasat Intelkam Polres Kutai Timur AKP Nurhadi.
Dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya kegiatan ‘Santri Kutim Bershalawat dan Parade 5000 Rebana’ ini.
“Melalui kegiatan ini, kita berharap tumbuh semangat religius yang kuat, menumbuhkan generasi muda yang berakhlak, dan mempererat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” ujar Wabup.
Suasana lapangan penuh dengan semangat spiritual. Lantunan “Sholawat Badar” dan “Ya Nabi Salam Alaika” menggema serentak, membawa getaran ke hati siapa pun yang mendengar. Di antara barisan santri, tampak pula para guru, tokoh agama, dan aparat keamanan yang ikut larut dalam kekhidmatan acara.
Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto yang turut hadir, mengatakan kegiatan ini bukan hanya bentuk peringatan, tapi juga manifestasi nyata nilai cinta damai dan nasionalisme yang tumbuh di kalangan santri.
“Santri hari ini bukan hanya belajar di pesantren, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan daerah. Kami dari Polres Kutim selalu siap bersinergi dengan para tokoh agama dan pesantren untuk menjaga harmoni di masyarakat,” ungkap Kapolres.
Parade rebana menjadi daya tarik utama. Santri dari berbagai kecamatan seperti Sangatta, Rantau Pulung, dan Bengalon berbaris rapi, menampilkan kekompakan yang luar biasa. Dentuman rebana membentuk irama dinamis yang berpadu dengan sorak takbir dan sholawat. Suasana berubah menjadi lautan putih yang bergetar oleh semangat kebersamaan.
Kemeriahan ini juga menjadi bentuk pelestarian budaya Islam Nusantara, di mana rebana dan sholawat telah lama menjadi sarana dakwah yang lembut namun bermakna dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Sepanjang kegiatan, terlihat personel Polres Kutim dan Satpol PP turut mengamankan jalannya acara. Arus lalu lintas di sekitar lokasi diatur dengan baik, sehingga ribuan peserta dapat mengikuti kegiatan tanpa hambatan. Tidak ada insiden yang mengganggu jalannya peringatan, hanya senyum, sholawat, dan gema rebana yang terus mengalun hingga larut malam itu.
Bagi masyarakat Kutim, Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan peran penting santri dalam menjaga keutuhan bangsa dan moralitas sosial. Di tengah perkembangan zaman, suara rebana menjadi pengingat bahwa nilai-nilai religius dan cinta tanah air harus terus dijaga.
Ketika gema 5.000 rebana perlahan mereda, suasana haru menyelimuti lapangan. Ribuan santri berdiri serempak, melantunkan sholawat penutup dengan penuh khidmat. Di wajah mereka tergambar kebanggaan sebagai bagian dari sejarah panjang perjuangan umat dan bangsa.
Festival rebana dan sholawat kali ini bukan hanya mencatat rekor jumlah peserta, tetapi juga menegaskan satu pesan kuat: bahwa harmoni antara iman dan kebangsaan masih berdenyut kuat di hati para santri Kutai Timur.
Seperti irama rebana yang menggema tak henti, semangat santri dalam mencintai agama dan negeri akan terus hidup — menjadi nada indah dalam simfoni Indonesia yang damai dan beriman. (*)







