Ardiansyah Sulaiman, Bupati Kutim, Pulang Kampung ke Muara Pahu di Kutai Barat

Kedatangan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman ke tempat kelahirannya di Muara Pahu disambut hangat. Foto: Dewi/Pro Kutim

MUARA PAHU – Kunjungan Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, ke kampung halamannya di Muara Pahu, Kutai Barat, disambut meriah oleh ribuan masyarakat pada Minggu (24/8/2025) malam. Momen kepulangan ini bukan sekadar agenda resmi seorang kepala daerah, melainkan sebuah reuni emosional antara seorang pemimpin dengan tanah dan warga tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Sejak petang, warga dari berbagai penjuru, mulai dari Teluk Tempudau, Tanjung Laong, hingga Kampung Mendung, telah memadati lokasi penyambutan. Kedatangan Ardiansyah disambut langsung oleh Wakil Bupati Kutai Barat, Nanang Adriani, bersama jajaran pemerintah kecamatan. Pelukan hangat dari keluarga besar dan kerabat yang telah lama menanti menjadi penanda dimulainya momen haru ini.

Dalam sambutannya, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan yang begitu hangat. Ia mengaku terharu bisa kembali ke kampung halaman di Muara Pahu yang telah ditinggalkannya sejak tahun 1975 untuk menempuh pendidikan dan merintis karier.

“Kampung halaman selalu menjadi sumber semangat dan doa. Dari sini saya belajar arti kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran,” ujarnya.

Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang terus ia bawa dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin.

Pernyataan Ardiansyah seolah mengajak masyarakat kembali ke masa kecilnya, mengenang saat ia bermain di tepi Sungai Mahakam dan menyerap nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Muara Pahu.

Camat Muara Pahu, Maulidin Said, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. Ia menyebut kunjungan ini sebagai momen penting yang menunjukkan kekompakan dan rasa kekeluargaan masyarakat Muara Pahu. “Momen ini sebagai kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Muara Pahu,” ungkapnya.

Suasana kehangatan terus terasa sepanjang acara. Warga menyajikan makanan tradisional, sementara para tetua adat memanjatkan doa untuk kesehatan dan kekuatan Ardiansyah dalam memimpin. Interaksi yang terjalin terasa begitu akrab, menghapus sekat antara seorang bupati dengan warganya.

Bagi masyarakat, melihat seorang anak kampung kini menjadi pemimpin di daerah besar adalah sumber inspirasi. Kepulangan Ardiansyah Sulaiman menjadi simbol bahwa akar budaya dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil bisa melahirkan pemimpin yang dihormati. Kunjungan ini menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak lepas dari restu dan doa dari tanah kelahirannya. (*)