Dorong Pengembangan Destinasi Wisata Lokal, Fokus Utama Tingkatkan Kunjungan Warga Daerah

Sangatta — Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong pengembangan berbagai destinasi wisata lokal demi meningkatkan kunjungan wisatawan, khususnya masyarakat Kutai Timur sendiri. Salah satu kawasan yang mulai mendapat perhatian adalah Teluk Lingga, meskipun pengelolaannya masih bersifat pribadi.

Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur, Nurullah, mengungkapkan bahwa Teluk Lingga masuk dalam kawasan yang telah tercantum sebagai zona pariwisata dalam tata ruang kabupaten. Meskipun saat ini dikelola oleh pihak swasta, pemkab tetap mempromosikannya karena dianggap memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata.

“Walaupun dikelola oleh pribadi, Teluk Lingga tetap kami promosikan. Karena yang penting adalah bagaimana kita mengangkat potensi alam kita sendiri. Apalagi masyarakat sangat membutuhkan ruang rekreasi yang nyaman dan menarik,” ucapnya kepada media saat di temui di ruang kerjanya, Senin (21/04/2025).

Selain Teluk Lingga, kawasan pantai lainnya seperti Teluk Lombok, Sekrat, Marang dan Jepu-Jepu juga menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan yang signifikan. Saat libur Lebaran lalu, Pantai Marang dan Jepu-Jepu masing-masing dikunjungi lebih dari 28.000 hingga 30.000 orang.

Dinas Pariwisata juga telah melakukan sejumlah perbaikan infrastruktur, seperti penyediaan gazebo, toilet, dan kabin host, guna mendukung kenyamanan wisatawan. Pihaknya menggarisbawahi bahwa pembangunan fasilitas penunjang sangat penting agar wisatawan betah dan bersedia kembali.

“Kita menginginkan agar pada akhir pekan, masyarakat Kutai Timur tidak perlu lagi ke Bontang atau Samarinda untuk berekreasi. Cukup di sini saja. Uang tetap berputar di dalam daerah, dan ini bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Namun demikian, belum semua kawasan wisata bisa memberikan kontribusi langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah saat ini masih dalam tahap memancing minat kunjungan terlebih dahulu, sebelum menerapkan kebijakan retribusi dan pengelolaan formal lainnya.

“Tujuan utama kita saat ini adalah membangun minat masyarakat. Setelah itu, baru kita dorong untuk masuk ke PAD secara bertahap,” jelasnya.

Program-program pengenalan destinasi juga terus dilakukan melalui berbagai festival dan kegiatan tematik yang mengangkat kearifan lokal dan potensi alam. Dinas Pariwisata berharap langkah ini akan menciptakan efek domino terhadap sektor kuliner dan usaha mikro di sekitar kawasan wisata.

“Jangan hanya mengandalkan tiket masuk. Yang lebih besar itu sebenarnya ada pada sektor kuliner. Kalau 10 orang makan Rp30 ribu, itu sudah Rp300 ribu. Jadi kita ingin semua pelaku usaha bisa merasakan manfaat dari pariwisata ini,” tambahnya.(Kiya/*)