
DP2KB Kutim Gelar Seminar dan Rembuk Stunting, Targetkan Penurunan Angka Keluarga Berisiko
Sangatta – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar Seminar dan Rembuk Stunting di Ruang Pelangi, Hotel Royal Victoria pada Rabu (18/12/2024).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas DP2KB, Achmad Junaidi, Kabid Kesehatan, Ketua PKK, perwakilan Dinas Sosial, serta narasumber dari BKKBN Kalimantan Timur.
Dalam sambutannya, Junaidi melaporkan bahwa beberapa waktu lalu pihaknya telah menyerahkan bantuan makanan gratis di sembilan titik lokasi pusat kegiatan masyarakat (lokus) yang difokuskan pada keluarga berisiko stunting.
“Alhamdulillah, sembilan lokus sudah mulai bergerak, dan hari ini kegiatan sudah sampai di Sangkulirang. Tinggal melanjutkan kampanye yang belum dilakukan,” ujar Junaidi.
Junaidi juga mengapresiasi dukungan luar biasa dari berbagai pihak, terutama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Ia menyampaikan terima kasih atas komitmen BAZNAS yang akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,5 miliar pada tahun 2025 untuk mendukung program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam upaya menangani stunting di Kutim.
“Kerja nyata BAZNAS dalam menangani masalah stunting di Kutim mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat. Ini adalah langkah yang luar biasa,” tambah Junaidi.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang ada, jumlah keluarga berisiko stunting di Kutim mencapai 12.362 yang tersebar di 18 kecamatan. Meskipun angka tersebut sudah menunjukkan penurunan yang signifikan, Kecamatan Sangatta Utara masih mencatatkan jumlah tertinggi, yaitu sekitar 3.870 keluarga berisiko.
“Data ini sangat penting, karena semua intervensi akan berdasarkan pada data yang valid dan akurat. Kami sudah menyerahkan data ini kepada masing-masing camat, dan kami berharap data ini jangan hanya didiamkan. Kami meminta para camat untuk segera memverifikasi dan memvalidasi data tersebut, memanggil kepala desa dan ketua RT untuk memastikan kebenaran kondisi di lapangan,” kata Junaidi.
Ia menegaskan bahwa verifikasi data sangat penting agar intervensi yang dilakukan dapat tepat sasaran dan mengurangi jumlah keluarga berisiko stunting. “Verifikasi data adalah langkah pertama yang krusial dalam penanganan stunting. Jika data sudah benar, maka eksekusi program akan lebih efektif dan jumlah keluarga yang berisiko stunting bisa berkurang dengan sendirinya.” pungkasnya (*)





