
70 persen Telur Ayam di Kutim Masih Dipasok Dari Luar Daerah.
Sangatta – Berwirausaha menjadi peternakan ayam petelur nampaknya sangatlah menjanjikan. Sebab, tidak hanya telur, ayamnya, melainan kotoran ayamnya juga bisa dimanfaatkan. Sehingga bisa menjadi ladang bisnis yang menjanjikan, terutama di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Meski menjanjikan, namun sayangnya pengembangan ternak ayam petelur di kabupaten Kutai Timur masih menuai beberapa kendala terutama masalah pakan. Sehingga banyak yang terbilang kesulitan untuk mengembangkannya karena harus mengandalkan pakan jadi yang biaya terbilang mahal.
“itu berbeda dengan di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan, mereka itu hanya membuat konsentrat dicampur jagung dan dedak. Sebenarnya di Kaltim ini kita bisa membeli konsentrat, namun untuk campurannya yang tidak ada, karena kita tidak punya jagung dan dedak. Mungkin ada dedak kita hari ini, tapi untuk 3 bulan kemudian sudah tidak ada. Sementara kebutuhan ayam petelur ini perhari disamping itu, produksi jagung dan dedak kita sangat kecil jauh dari kata cukup ”Ucap Kabid Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kutim, Mardi Suaibman saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (24/8/2021).
Sehingga mau tidak mau para peternak ayam petelur harus menggunakan pakan jadi dengan harga yang mahal. Sementara di pulau jawa dan Sulawesi harga pakannya murah karena bisa diolah sendiri sehingga membuat biaya produksi mereka rendah, sementara di kaltim biaya produksi terlalu tinggi dan terlalu mahal.
“Disitu letak kendalanya terkait pengembangan ayam petelur kita, khususnya kita yang di Kutim,” jeasnya
Namun meskipun begitu, dengan adanya harga telur yang lebih memungkinkan sehingga membuat keberadaan ternak ayam petelur di Kutim mulai diminati oleh masyarakat dan mulai mengalami perkembangan.
Untuk diketahui populasi ayam petelur di kabupaten Kutai Timur saat ini sudah mencapai 91.395 ekor yang tersebar di beberapa kecamatan di Kutim. Seperti di Kecamatan Teluk pandan, Sangatta Selatan, Sangatta Utara, Rantau Pulung, Kaubun dan Kaliorang.
“Sebenarnya ini masih bisa dikembangkan cuman karena terkendala pakan dan beda dengan daerah lain yang memang pakannya bagus. Sementara kita apa kandungan yang ada dalam pakan jadi itu, itulah yang kitaa berikan ke ayam petelur,” imbuhnya
Selain itu, jika melihat perkambangan produksi ayam petelur yang ada di Kutim sudah sekitar 30 persen kubutuhan telur ayam terpenuhi dari dalam, dari total kebutuhan telur yang di konsumsi. Sementara 70 persennya di datangkan dari luar daerah.
“Jadi ini masih kita menginpor telur ayam dari luar sekitar 70 persen dan yang 30 persen sudah kita penuhi dari dalam,” Tuturnya (*/Ke)






